(Bedah Buku) Koleksi Tas Seharga 1,5 Milyard

Pejabat kaya di negeri yang bernama indonesia ini sebenarnya sangat banyak dan tidak terpublikasi, pola dan gaya hidup mewah sebagian pejabat yang berada dinegeri ini benar-benar mengelus dada rakyat yang mengetahuinya bagaimana tidak mereka selalu mendengung-dengungkan hidup sederhana tapi nyatanya pola hidup dan gaya hidup mereka jauh diatas hidup sederhana dan bukan terkesan mewah lagi tapi Sangat Mewa

Selama ini kita juga hanya tau beberapa gelintir gaya hidup para pejabat kaya melalui desas desus dan pola hidup yang disoroti cuma sebagian kecil saja.  Namun untunglah ada Amelia Masniari. Ikon shopaholic Indonesia ini mengabadikan kegilaan belanja orang kaya Indonesia di bukunya: ’’Miss Jinjing’’, yang masuk deretan buku laris di toko buku terkemuka.

Dalam bukunya, lulusan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini menuturkan kegilaan belanja orang kaya Indonesia. Dia mengutip Survey Singapore Tourism Board yang menunjukkan bahwa pengunjung Singapore Great Sale terbesar adalah orang Indonesia.

“Makanya tidak usah heran kalau iklan Uniquely Singapore nyaris setiap hari muncul setengah halaman koran nasional,” tulis perempuan yang berprofesi sebagai personal private buyer ini.

Lalu mengapa orang Indonesia doyan belanja ke Singapura? Jawabnya, bukan karena harga murah atau lebih beragam, namun karena lebih bebas. Dandan seadanya oke saja, tanpa harus dilirik dengan pandangan sinis oleh orang lain dan sales attendant butik.

”Coba kalau di Indonesia, berpenampilan seadanya pasti malah dipandang sebelah mata, melecehkan. Pokoknya harus rapi, wangi dan niat dandan,” tulis ibu tiga anak ini.
Belanja di Singapura juga bebas pelukan atau cipokan di pinggir jalan. Coba di Indonesia!

Hong Kong Tourism Board, Malaysian Tourism Board, dan Thailand Tourism Board, juga sangat menyadari bahwa rakyat Indonesia merupakan pangsa potensial. Karena itulah mereka rajin pasang iklannya. Hasilnya jelas.
”Orang Indonesia di China terkenal sangat heboh jika melihat barang bagus.

Apalagi mereka tidak terlalu sering menawar harga. Jelas aja ini bikin para penjual senang melihat tampang Indonesia lewat di depan tokonya. Malah sering dipanggil, Miss…miss Indonesia, let’s have a look…” cerita pengasuh blog belanja-sampai-mati.blogspot.com ini.

Penggila belanja Indonesia juga eksis di Eropa. Suatu ketika Amelia ke gerai Chanel di Saks Fifth Avenue, New York. Begitu melangkahkan kaki masuk, si Beauty Assistant yang tahu Amelia orang Indonesia langsung bilang begini,”Mrs XXX baru aja tadi dari sini.”

Bahkan, sales assistant Chanel di BGM bisa menyebutkan dengan sangat fasih nama keluarga pejabat yang nyonya besarnya (TS) seminggu lalu habis beli tas di butik tersebut. Pelanggan lainnya ada nyonya TAB dan DP.

Amelia juga menceritakan, butik Etienne Aigner di Muenchen pernah mengalami kehebohan gara-gara seorang ibu pejabat Indonesia setingkat menteri bersama rombongan datang untuk memborong. Sebanyak 80 tas dibeli oleh si nyonya dan rombongannya pasti ikut beli, entah berapa.
”Sampe-sampe tuh butik Aigner kehabisan barang dan minta diambil dari gudang lagi,” tulis Amelia.

Ketika iseng ditanya oleh seorang penjaga butik tentang keperluan tas tersebut, dengan entengnya si ibu itu menjawab, ”Untuk oleh-oleh keluarga di kampung.”
Jelas oleh-oleh yang supermahal! Sebab jika tas Aigner satu bijinya paling murah Rp 8 juta, berarti 80 tas itu sejumlah Rp 640 juta. Hanya untuk oleh-oleh?

”Ditambah lagi nih, denger-denger sebelum tiba di Muenchen, mereka terlebih dulu ke Paris. Mereka juga melahap butik Hermes, memborong setidaknya 40 tas, birkin, garden tote bag, lindy bag, kelly bag, dan lain-lain,” tulis Amelia yang jadi ngiler.

Info Amelia yang satu ini tak boleh dilewatkan: dari sales assistant di Hermes, salah satu kolektor tas Hermes terlengkap di dunia adalah seorang ibu mantan pejabat setingkat menteri asal Indonesia.

Konon, dia ini mempunyai koleksi tas Hermes yang tergolong sangat lengkap dari segi model dan warna. Sedikitnya dia punya 30 pieces.
”Coba bayangkan jika harga Hermes rata-rata 50 juta/pcs, artinya nilai koleksinya minimal 1,5 miliar!” tulis Amelia.

Anggota DPR

Selain ibu pejabat yang memborong tas ratusan juta, ada juga anggota DPR yang gila belanja barang kelas wahid. Alkisah, suatu ketika Amelia menguangkan Global Tax Refund (GTR) di Schipol, Belanda. GTR adalah pajak barang dan jasa. Turis asing berhak untuk meminta pengembalian GTR yang dikenakan saat turis hendak kembali ke negara asal. Tiap negara memiliki besaran GTR yang berbeda.

Nah di situlah Amelia bertemu dengan ”seorang anggota dewan yang terhormat bersama selingkuhannya. ”Wow, fantastis…GTR yang dia terima 3.000 Euro (36 juta). Jika dikalkulasikan dengan perhitungan GTR 10% (di Paris 19,6%), berarti nilai belanjanya setara dengan 360 juta. Cek cek cek…belanja apa saja, Pak? Yang kelihatan, sih, selingkuhannya membawa beberapa shopping bag Chanel dan Louis Vuitton, dan Bapak itu mengenakan jaket Hermes yang tampak masih baru,” tulis Amelia.

Selain anggota DPR, anak-anak dan remaja Indonesia yang tajir juga jago belanja branded items. ”Coba saja lihat kelakuan mereka saat weekend di Singapura. Sasaran mereka Zara, Mango, Topshop, Bebe. Mereka (selalu bergerombol) tidak hanya membeli 1 piece per orang, tapi tiap orang beli banyak,’’ cerita Amelia.

Berburu merek mahal juga dilakukan di Jakarta. Suatu ketika Amelia menghadiri sale Bottega Benneta di Senayan City. Tas-tas sederhana tapi keren dibandrol Rp 40 juta dan saat diskon, tas tersebut laris diborong seperti membeli kacang goreng.

”Pembelinya banyak yang bukan orang Jakarta, tetapi terdengar logat Jawa Surabaya, Medan, dan Palembang. Jadi bukan orang Jakarta saja yang gila belanja, orang daerah juga tidak boleh dipandang sebelah mata daya belinya,” ujar dia.

Kalau orang swasta shopaholic, jelas tak soal. Lain perkara jika yang doyan belanja itu pejabat negara. Sanksi sosial bisa berlaku: dikuntit!
Seperti yang terjadi pada rombongan anggota DPR pada 2006 silam. Saat anggota rombongan belanja ke tempat mewah, mahasiswa Indonesia menguntit mereka.

Kisah ini disampaikan aktivis Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Berlin, Jerman, Azman Muchtar.
Lulusan Master Globalisasi dan Kebijakan Industrial, Universitas Kassel & Fachohschule fur Wirtschaft (FHW) Berlin ini mengungkapkan peristiwa yang terjadi pada 9 November 2006.

Saat itu beberapa anggota Komisi V DPR berada di Berlin, Jerman untuk misi studi banding dalam rangka pembuatan UU Perhubungan (Perkeretaapian).

”Pukul 15.00, beberapa mahasiswa yang tengah membeli keperluan musim dingin mengenali mereka dan menguntit mereka saat bermaksud berbelanja di pusat perbelanjaan termewah di Berlin KaDeWe, tempat di mana mantan Presiden Soeharto berbelanja ketika berkunjung ke Jerman,” tuturnya.

Tak banyak yang bisa kita lakukan pada pejabat doyan belanja itu. ”Paling kasih hukuman sosial saja. Misalnya teman-teman bisa foto mereka saat belanja terus taruh di media. Dipermalukan,” kata pengamat kebijakan publik Agus Pambagio, Rabu (25/2).

Menurut Agus, gaya hidup pada dasarnya tidak bisa diatur. Apalagi kalau yang berbelanja itu adalah orang-orang swasta. Yang bisa dihukum sosial hanya para pejabat pemerintahan, bukan swasta.

”Kalau pejabat publik harus mengikut perintah atasannya. Kalau swasta bagaimana, nanti dia bilang, ini kan duit-duit saya,” ujarnya. Sumber : Suara merdeka, gayahidup

3 thoughts on “(Bedah Buku) Koleksi Tas Seharga 1,5 Milyard”

  1. tulisan yg bagus…miris dg dyannya para pejabat bermewah2an..mari kita teladani bung hatta, mau beli sepatu bally aja gak kesampaian…

  2. Sebenarnya orang2 Indonesian ini ternyata kaya2 ya wow tidak disangka good luck deh buat orang2 kaya di Indonesia tapi jangan lupa bersidekah juga ya he he he!.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *