Hukuman Mati dengan Suntik Menggunakan Metode Baru di Klaim Lebih Manusiawi

gantungHukuman mati sudah ada sejak lama kemungkinan besar awal ditemukannya manusia yang telah berbudaya,telah memiliki aturan dalam masyarakat dan telah terdapat kejahatan yang dilakukan sesama manusia, Tentu susah menemukan tahun kelahiran hukuman mati. Yang pasti hukuman mati resmi diakui bersamaan dengan adanya hukum tertulis, yakni sejak adanya undang-undang Raja Hamurabi di Babilonia pada abad ke-18 Sebelum Masehi. Saat itu ada 25 macam kejahatan yang diancam hukuman mati.

Selanjutnya jenis tindak pidana yang diancam hukuman mati berubah-ubah. Misalnya saja di kerajaan Yunani di abad ke-7 Sebelum Masehi hukuman mati berlaku untuk semua tindak pidana. Pada masa-masa selanjutnya jenis tindak pidana yang diancam pidana mati semakin terbatas.

ABOLISIONIS
atau disebut sebagai Gerakan penghapusan hukuman mati, muncul pada tahun 1767. Gerakan itu terinspirasi esai “On Crimes dan Punishment” yang ditulis Cesare Beccaria.

Pada intinya, esai itu mengatakan negara tidak mempunyai hak mencabut nyawa orang.

Sejak muncul gerakan abolisionis, banyak negara yang mengurangi jenis-jenis tindak pidana yang diancam hukuman mati.

Di Inggris, misalnya, antara tahun 1823 sampai 1837 sebanyak 100 di antara 222 tindak pidana yang diancam hukuman mati dihapuskan.

Negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, secara resmi menghapus hukuman mati pada 1834. Pennsylvania adalah negara bagian pertama yang menghapus hukuman mati. Berangsur-angsur pengadilan di Amerika Serikat tidak menerapkan hukuman mati. Namun pada 1994 Presiden Bill Clinton menandatangani Violent Crime Control and Law Enforcement Act yang memperluas penerapan hukuman mati di AS. Pada 1996 penerapan hukuman mati diperluas lagi melalui Antiterrrorism and Effective Death penalthy Act yang ditandatangani Clinton.

Hak untuk hidup sebagai dasar penghapusan hukuman mati semakin kuat saat Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia disahkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Di Eropa penghapusan hukuman mati baru merebak antara 1950 hingga 1980. Itu pun secara de facto tidak pernah dicabut secara resmi. Selanjutnya pada 1999 Paus Johanes Paulus II menyerukan penghapusan hukuman mati. Seruan itu bersamaan dengan Resolusi Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB yang menyerukan moratorium hukuman mati.

Jenis Eksekusi Humuman Mati
Cara eksekusi hukuman mati dari waktu ke waktu semakin berubah. Pada masa masyarakat komunal, hukuman mati diterapkan dengan cara amat keji seperti dikubur hidup-hidup, dipancung, disalib, dirajam/dilempar baru ramai-ramai atau dengan diinjak gajah ata bahkan ada yang dilempar ke sungai yang penuh dengan buaya. Pada periode ini hukuman mati sangat variatif di setiap tempat. Pada umumnya eksekusi dilakukan untuk menjadi tontonan publik hal ini bertujuan untuk menimbulkan efek jera pada masyarakat.

Di Republik Rakyat China eksekusi tembak mati di depan publik masih diterapkan sampai detik ini, terutama untuk para koruptor yang memaling uang rakyat. Eksekusi dilakukan oleh regu tembak dan yang lebih membuat miris hukuman mati dilaksanakan 2-3 jam setelah kasus diputuskan,Bagaimana kalau negara kita mengadopsi hukuman bagi para koruptor seperti di cina kemungkinan indonesia keluar dari 20 besar negara terkorup didunia!. Eksekusi di depan publik mereka nilai masih efektif untuk menimbulkan efek jera bagi orang lain. Mungkin itulah yang membuat China hingga tahun 2006 tercatat sebagai negara yang paling banyak mengeksekusi terpidana mati. Data resmi menyebutkan 1.100 terpidana mati dieksekusi tahun lalu. Di belakang China, membuntuti Iran (177 eksekusi), Pakistan (82), Irak (65), Sudan (65), serta Amerika Serikat (53 eksekusi).

Betapa “manusiawinya” cara eksekusi terpidana mati, hukuman ini tetap dinilai sebagai salah satu bentuk hukuman yang keji karena hal ini telah m,elanggar Hak Asasi manusia yaitu merampas hak untuk hidup.Karena itu, kini 90 negara di dunia menghapus hukuman mati sama sekali. Sebelas negara lainnya menghapus hukuman mati kecuali untuk kejahatan-kejahatan luar biasa. Selain itu 32 negara tidak menghapus hukuman mati, namun tak pernah juga menerapkan hukuman mati. Di negara-negara seperti ini para hakim menggunakan diskresinya untuk tidak menjatuhkan hukuman mati. Sementara itu masih ada 64 negara, termasuk Indonesia, yang hingga kini menerapkan hukuman mati.

Perkembangan Jaman dan Hukuman Mati

Jaman semakin berkembang maka cara pelaksanaan hukuman matipun ikut berkembang, agar tidak terlalu melanggar rasa manusiawi hukuman matipun di bikin secepat dan senyaman mungkin, agar terpidana tidak begitu merasakan sakit saat eksekuti mati dilakukan, dan terpidana cepat mati dalam keadaan damai.

Seorang terpidana mati Kenneth Biros adalah orang pertama di Amerika Serikat, mungkin juga dunia, yang dieksekusi oleh suntik mati versi baru. Suntik mati versi baru ini hanya menggunakan satu dosis obat dalam dosis tinggi. Suntikan ini disebut-sebut tidak menimbulkan sakit.

Pihak pengadilan memutuskan untuk menggunakan metode suntik terbaru karena sebelumnya para pengeksekusi tidak berhasil menemukan urat nadi Biros untuk disuntik. Meski sudah dicoba 18 kali, nadi tetap nihil ditemukan. Jarum suntik malah mengenai tulang dan otot.

Para ahli injeksi dan pengacara sepakat bahwa suntikan dengan dosis tunggal ini tidak menyebabkan sakit. Namun, ahli hukuman mati menilai metode baru ini membuat ajal lebih lama menjemput si terpidana mati.

Pada umumnya, suntikan yang dipakai untuk eksekusi mati berisi tiga obat, yakni anestesi, pelumpuh otot, dan penghenti jantung. Sementara itu, metode suntikan baru ini hanya mengandung anestesi saja dalam dosis besar.

Suntik mati pertama kali digunakan pada tahun 1977 di Oklahoma, AS. Cara ini ditempuh sebagai alternatif dari hukuman mati yang lebih manusiawi karena sebelumnya pengadilan selalu menggunakan kursi listrik.

Dengan bantuan para ahli anestesi, dunia medis menawarkan tiga kombinasi obat untuk menghasilkan kematian tanpa rasa sakit. Para terpidana menjemput ajalnya akibatnya gangguan pernapasan dan serangan jantung.

Untuk diketahui, 34 dari 36 hukuman mati yang dilakukan di AS saat ini masih menggunakan suntikan tiga obat untuk mendapatkan efek anestesi yang singkat yang disebut thiopental, pelumpuh otak yang disebut pencuroniumbromide, dan senyawa potasium klorida untuk menghentikan detak jantung.

Namun, seringkali tindakan suntik mati tidak berjalan efisien. Beberapa terpidana mati harus meregang nyawa selama beberapa menit sebelum ajal menjemput. Beberapa lagi terlihat sangat kesakitan.

Setelah melakukan analisis data dan uji coba di lab, para ahli menyatakan bahwa dosis obat yang selama ini dipakai dalam suntik mati mungkin kurang tepat.

Menurut Leonidas Koniaris dan timnya dari University of Miami Miller School of Medicine, kandungan anestesi yang dipakai tidak fatal dan terlalu lemah untuk bekerja menghentikan jantung. Ini berarti terpidana meninggal karena mati lemas dan kekurangan oksigen akibat kelumpuhan otot.

Sementara itu, metode suntik mati terbaru ini mengandung dosis tinggi agen anestesi thiopental sodium. Obat ini merupakan jenis yang sama yang telah dipakai untuk membius pasien operasi, tetapi dalam dosis yang lebih kecil.

Dr Richard Birks, Presiden The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland mengatakan bahwa obat anestesi ini akan merusak sistem pernapasan dan menekan sistem jantung, tetapi tanpa disadari oleh si terpidana.

“Terpidana akan tertidur dalam beberapa detik seperti halnya pasien yang dioperasi. Bedanya, terpidana mati tak akan pernah terbangun lagi. Kematiannya akan berjalan tenang,” ujarnya.

Meski begitu, butuh waktu beberapa lama untuk menyatakan bahwa seorang terpidana telah tewas karena dalam suntikan ini tidak digunakan potasium yang mampu menghentikan detak jantung.

Di Ohio, biasanya butuh waktu sekitar 7 menit sebelum seseorang benar-benar tewas setelah disuntik. Hal ini merupakan bagian dari proses 30 menit, mulai dari para saksi menyaksikan pengeksekusi menyuntik hingga petugas menyatakan kematian. Dengan metode suntik mati terbaru ini, mungkin terpidana baru meninggal 15 menit pasca-injeksi.

Tapi bagaimanapun yang namanya hukuman mati pasti mengalami apa yang dirasakan saat ajal menjembut dan pasti sakit. bagaimanapun hukuman mati akan mendapat pro dan kontra dalam masyarakat dan hukuman mati kemungkinan akan terus di jalankan selama manusia saling menyakiti dan melakukan pelanggaran hukum yang tidak dapat diampuni!

sumber : Kaktus forum and kompas.com

2 thoughts on “Hukuman Mati dengan Suntik Menggunakan Metode Baru di Klaim Lebih Manusiawi”

  1. emi nursilowati

    seperti apapun yang jelas ketika nyawa berpisah dari raga pasti sakit sekali . mungkin perbedaanya hanya dari tampak luar saja yang terlihat tidak sadis..apapun itu yang harus dilakukan adalah berbuat kebajikan biar thindar dari sgala bentuk dosa..dan hukuman mati merupakan salah satu konsekuensinya.

  2. menurut saya, meski sepintas tampak tidak sakit, tetapi saat ruh hendak keluar dari tubuh, tentulah sakit luar biasa. tetapi memang dalam kondisi demikian, mulut sudah terkunci rapat tidak dapat mengekspresikan kesakitannya.
    ya, begitulah yang saya tahu dari kisah agama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *