Korea Selatan Latih 7 Anjing Pelacak Hasil Cloning

KeTujuh Anjing Pelacak yang berhasil Di Kloning
KeTujuh Anjing Pelacak yang berhasil Di Kloning

Hewan sejak dari dulu digunakan sebagai alat untuk membantu manusia, seperti Kuda, Kerbau, sapi, ayam dan anjing. Dengan adanya perkembangan teknologi dunia kedokteran dan dunia reproduksi,manusia semakin selektif dalam memilih hewan yang akan digunakannya dengan seabrek nilai dari keunggulan sifat dan karakter hewan tersebut.

Dalam dunia kepolisian telah lama menggunakan Anjing yang digunakan oleh polisi untuk membantu tugas-tugasnya baik untuk keamanan, pengamanan dan pengungkapan kasus kejahatan, anjing dikenal memiliki penciumansangat tajam dan insting yang kuat. Indonesia sendiri memiliki anjing Lokal yang memiliki penciuman yang sangat tajam dan telah diakui oleh dunia Internasional, anjing tersebut berasal dari Bali dan diberinama Ras Kintamani.

Pemanfaatan teknologi kloning anjing mulai menampakkan hasil di Korea Selatan,dengan kemajuan teknologi dan penguasaan ilmu kloning Korea selatan berhasil mengembangkan anjing jenis pelacak menggunakan teknologi Kloning.Usaha ini tidak sia-sia karena negara ini telah menghasilkan kloning tujuh anjing jenis pelacak dan diharapkan anjing ini bisa menyamai induk kloningnya yang merepakan anjing jenis Canadian Labrador Retriever. Tujuh anak anjing jenis labrador berhasil dilahirkan dengan kloning dan mulai dilatih menjadi anjing pelacak.

Anak-anak anjing tersebut lahir akhir tahun atas pesanan kantor bea dan cukai setempat. Proyek yang didanai penuh anggaran negara ini menghabiskan dana sekitar 300 juta won atau sekitar Rp2,75 miliar. Proses kloning dilakukan sebuah perusahaan bioteknologi di Korea yang mendapat dukungan penuh dari para peneliti kloning di Universitas Nasional Seoul.

Ketujuh anjing kloning tersebut merupakan hasil reproduksi dari seekor anjing Canadian Labrador Retriever bernama Chase. Namun, calon tim anjing pelacak yang diberi nama Toppy (Tomorrow’s puppy) ini dilahirkan dari tiga induk pembawa (surrogate mother)  yang berbeda. Untuk mengkloning, peneliti mengambil inti sel somatik dari bagian tubuh induk dan menyuntikkannya ke dalam sel telur yang telah dikosongkan. Sel rekayasa ini kemudian ditanam dalam rahim induk pembawa.

Masing-masing telah dipastikan memiliki sifat genetika yang sama dengan anjing induknya yang diketahui sebagai pelacak terbaik. Dengan sifat genetika yang seragam, anjing-anjing tersebut diharapkan memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan pelacakan seperti induknya.

Selama ini dari sekian banyak anjing pelacak yang dilatih tingkat keberhasilannya hanya 30 persen. Para ilmuwan Korea Selatan yakin kloning akan meningkatkan tingkat keberhasilan pelatihan hingga 90 persen.

Jurubicara kantor bea cukai Korea Selatan menyatakan seluruh anjing kloning telah lulus ujian pertama untuk perilaku dan kulaitas genetika. Setelah menjalani pelatihan tahap kedua, anjing-anjing tersebut siap memulai debutnya pada Juni 2008.

sumber : http://m.Kompas.com

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *