Sistem Keamanan Data Tabulasi KPU Mudah Di Manipulasi

Kesalahan-kesalahan selama ini menunjukan KPU tidak Prefisional dan tidak siap menyelenggarakan PEMILU
Kesalahan-kesalahan selama ini menunjukan KPU tidak Prefisional dan tidak siap menyelenggarakan PEMILU

Banyak orang yang menilai bahwa pemilu 2009 adalah merupakan pemilu yang paling kacau sepanjang inonesia merdeka,banyak sekali pelanggaran-pelanggaran dan juga kecurangan-kecurangan yang di klaim suatu tindakan yang tidak di sengaja oleh petugas KPU termasuk juga DPT (Daftar Pemilih Tetap) yang lebih parah lagi data pusat tabulasi nasional yang telah di bangun dan menghabiskan bermilyard uang negara,Sistem keamanan IT yang menurut persatuan hacker indonesia memiliki sistem keamanan yang STANDAR,padahal sistem atau pusat tabulasi nasional harus memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan jauh dari tindak manipulasi data yang ada, pada hari selasa 14 april 2009 ada sesuatu yang sangat menarik pada data perolehan sementara wakil rakyat,salah satu wakil rakyat dari partai Demokrat memiliki suara lebih dari 11 juta suara,padahal saat itu suara yang masuk di tabulasi data baru sekitar 8 juta suara,mengapa hal ini bisa terjadi?


Kekacauan terjadi dalam tabulasi suara nasional Kimisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Borobudur, Jakarta, masih terus terjadi. Kemarin sekitar pukul 15.30 WIB, perolehan suara calon legislator dari Partai Demokrat melonjak bak roket meluncur ke luar angkasa. Caleg dengan nomor urut satu daerah pemilihan Sulawesi Selatan II, Mohammad Jafar Hafsah, itu semula tercatat 7,88 juta menjadi 11.226.214.

Pakar Teknologi Informasi dari Institut Teknologi Bandung, Dedi Syafwan, menilai sistem Intelligent Character Recognition (ICR) yang digunakan KPU rawan manipulasi. Data hasil pemindaian sangat mungkin diedit oleh operator atau petugas di tingkat kabupaten/kota. “Validasi jumlah angka suara yang salah tak bisa dilakukan oleh sistem ICR,” katanya.

Selain itu, Dedi melanjutkan, desain sistem pengolahan data suara yang berbasis kabupaten/kota juga menyebabkan kelambanan. Formulir C1 IT yang diadakan KPU harus disampaikan dari Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau tempat pemungutan suara ke Panitia Pemilihan Kecamatan. Akibatnya, terjadi penumpukan pemindaian formulir C1 IT. “Seharusnya sistem teknologi mampu mengatasi kendala geografis,” katanya.
Soal perolehan suara yang meroket tadi, Ketua Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat, E.E. Mangindaan ketika melihat data yang disodorkan kaget. Menurut politikus Partai Demokrat ini, perolehan suara partainya tak sebesar itu. “Saya tak percaya tabulasi ini,” kata Mangindaan yang datang bersama sejumlah anggota Komisi Pemerintahan DPR untuk memantau pelaksanaan tabulasi nasional.

Mangindaan menilai terjadi kesalahan dalam tabulasi nasional. Ia meminta Komisi Pemilihan segera memperbaiki kesalahan tersebut untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap tabulasi nasional. “Jangan sampai error lagi,” katanya.

Anggota KPU Abdul Aziz mengakui terjadi kesalahan dalam sistem tabulasi. Seharusnya, perolehan suara satu calon legislator tak setinggi itu. Ia juga mngakui terjadi kelambanan penyampaian hasil tabulasi nasional karena penumpukan formulir C1 IT dari tempat pemungutan suara. “Proses penayangan sangat bergantung dari kesibukan Komisi kabupaten/kota.,” katanya.

Anggota KPU yang lain, Sri Nuryanti, menambahkan berbagai kendala dalam proses penghitungan elektronik terutama menyangkut operator pengirim data di kabupaten/kota. Operator cenderung mengalami kesulitan dalam mengirimkan hasil rekapitulasi suara tiap tempat pemungutan suara. “Memang bimbingan teknisnya sangat minim, hanya sekali,” katanya.

Walau kacau balau, KPU optimistis akan ada perbaikan penayangan hasil perolehan suara hingga batas waktu 20 April. Tapi, Aziz sendiri menilai data yang disampaikan hanya mencapai 70 persen dari total perolehan suara nasional sekitar 171 juta pemilih.

1 thought on “Sistem Keamanan Data Tabulasi KPU Mudah Di Manipulasi”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *