Kemas Yahya dan M. Salim Akhirnya di Copot

1067kejagungJAKARTA, RABU Baru dilantik pada tanggal 24 selang sehari setelah itu Kemas Yahya Rahman dan M Salim, Rabu (25/2), dicopot dari penugasan sebagai Koordinator Unit I dan Wakil Koordinator Unit I Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi, Perikanan, dan Ekonomi. Tugas serta kewenangan Kemas dan Salim diambil alih Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Marwan Effendy.

Marwan menyampaikan, langkah pelepasan Kemas dan Salim dari satuan khusus itu dilakukan atas perintah Jaksa Agung Hendarman Supandji. ”Selanjutnya, kami usulkan revisi surat keputusan tentang pengangkatan Kemas dan Salim,” katanya.

Marwan menuturkan, ia telah menunjuk Sekretaris Jampidsus Muzammi Merah Hakim sebagai Koordinator Unit I dan Direktur Penuntutan pada Bagian Tindak Pidana Khusus Timbul Manulang sebagai Wakil Koordinator Unit I. Muzammi merangkap sebagai Koordinator Unit II. Timbul juga merangkap sebagai Wakil Koordinator Unit II.

Secara terpisah, peneliti hukum Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Diansyah, menilai, keputusan Jaksa Agung mencopot Kemas dan Salim adalah sikap yang didorong ICW sejak awal. ”Ini juga pesan untuk Jaksa Agung agar selektif mengangkat orang dan menjalankan sistem penilaian dengan tegas,” katanya

Hal ini menunjukan keputusan dan langkah yang dilakukan oleh kejaksaan agung berkesan main-main dan tidak serius,mengapa pada saat pengankatan kedua pejabat ini kejaksaan agung terkesan terburu-buru dan tidak berpikir panjang tentang akibatnya di kemudian hari? dan selang hanya satu hari dari pengangkatannya jabatan mereka dicopot lagi alias diganti,mana wibawa kejaksaan agung?dikawatirkan kejaksaan agung yang merupakan suatu lembaga peradilan yang independen disusupi dan terinterfrensi oleh kekuatan-kekuatan dari luar yang mempengaruhi keputusan dari jaksa agung

Boyamin Saiman dari Masyarakat Anti Korupsi Indonesia berpendapat, pengangkatan Kemas dan Salim sebagai pimpinan tim supervisi penanganan kasus korupsi menunjukkan Jaksa Agung ceroboh. ”Bagaimana mungkin orang yang dikatakan tidak layak menangani kasus korupsi bisa dipasang di posisi strategis?” ujarnya.

Kemas dan Salim yang saat ini menjabat Staf Ahli Jaksa Agung akan dipindahkan ke tempat lain yang tidak berkaitan dengan penanganan perkara. Kemas memasuki masa fungsional pada awal Maret 2009. Ia berusia 60 tahun pada 15 Februari lalu. Jaksa tak lagi memegang jabatan struktural setelah berusia 60 tahun.

Sebelumnya, Jaksa Agung pada 22 Januari 2009 menandatangani SK tentang Satuan Khusus Supervisi dan Bimbingan Teknis Penuntutan Perkara Tindak Pidana Korupsi, Perikanan, dan Ekonomi. SK itu menyebutkan Kemas dan Salim sebagai pimpinan Unit I. SK itu dikecam sejumlah kalangan.

Kemas yang sempat ditanya soal penugasannya itu menolak berkomentar. Ia juga menolak menanggapi kontroversi di masyarakat. (idr/kor)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *