HAM dan Plurarisme Beragama dalam Teologi Islam

Dalam teologi Islam manusia diciptakan  Oleh Allah sebagai golongan genus mahluk yang dimuliakan (Al quran, Al-Israa:70) dan dia harus dihormati sebagai manusia apapun warna kulit, Dari manapun asalnya, dan apapun Agama yang dianut. Sampai-sampai Malaikatpun harus menghormatinya (Al-Baqarah: 34, Al-a’raf:11 dan sebagainya). Bersamaan dengan pemberian status sebagai “mahluk yang Unggul”

Manusia juga diberikan hak Oleh Allah berupa beberapa hak asasinya (disamping memiliki ke wajiban asasinya) yang harus dijaga dan dihormati oleh orang lain/manusia lain:

1. Hak Untuk Hidup (Al-quran surat AL-An’am ayat 151)

2. Hak Persamaan Derajat (Al-quran surat AL-Hujurat ayat 13)

3. Hak Memperoleh keadilan (Al-quran surat AL-Ma’idah ayat 2 dan 8)

4.Hak Perlindungan harta/Milik (Al-quran surat AL-Baqarah ayat 188)

5. Hak Kebebasan Beragama (Al-quran surat AL-Baqarah ayat 256, dan surah Yunus ayat 99)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat al quran  yang mengisyaratkan hak asasi manusia yang dihormati secara Universal. Demikian pula Sunnah Nabi yang diimplementasikan dalam contoh prilaku diri Nabi Muhammad SAW maupun ucapan-ucapan yang berupa nasihat,himbauan dan anjuran secara verbal.

Prinsip-prinsip penghormatan terhadap HAM, seperti yang menyangkut ke-adilan, persamaan derajat, kebebasan beragama dan lainnya  tanpa diskriminasi atas dasar RAS,Warna Kulit, Jenis kelamin dan agama dapat dijumpai terutama pada ayat-ayat  Makiyah (yang turun selama periode mekah), Kemudian dalam perjalanan peradapan islam, para ulamah dan sarjana muslim mengembangkan konsep-konsep rasional baik dalam masalah hukum, (yang lazim disebut Fiqih) atau teologia(yang sering disebut ilmu khalam), dan disitu mulai terlihat adanya banyak perbedaan persepsi dalam menyiokapi  HAM dikalangan Ulamah dan sarjana Islam dan hal ini berlangsung sampai sekarang, ditambah lagi dengan gencarnya Revivalisme Islam dalam dekade terakhir ini.Semangat  Revivalisme islam juga menyentuh tentang HAM. Konsep HAM yang universal ditolak karena dianggap mengandung Bias kepentingan Barat, sebaliknya kemudian diajukan prinsip HAM dalam prinsip Islam dan Formulasi paling modern dari HAM versi Islam ini adalah “Al-Bayan al-alami’an huquq al insan fil islam“(deklarasi Internasional tentang Hak-hak asasi manusia dalam Islam), yang disampaikan di paris pada tahun 1981.

Dalam rumusnya terdapat modifikasi materi dan intervensi nilainya terhadap HAM yang disusun oleh PBB yang menampilkan transendentalisasi HAM, dalam pengertian bahwa Penerapan HAM tidak boleh bertentangan atau menabrak ketentuan-ketentuan Tuhan (Hudud Allah). Dikalanagn sarjana muslim post-modern (seperti Addullah Ahmad An-Naim, dari Sudan: Muhammad Arkoun, perancis; Hasan Hanafi,Mesir; Mahdi Bazrgan,Iran) lebih menghendaki adanya harmonisasi antara tradisi islam dan konsep HAM Internasional. Kalaupun ada yang disebut HAM versi Islam, itu pada hakekatnya merupakan satu rangkaian eksposisi Teologis yang Justru memperkuat prinsip HAM Internasional versi PBB.

Agama dalam kehidupan masyarakat najemuk dapat berperan sabagai faktor pemersatu (Integratif) namun dapat juga digunakan sebagai faktor pemecah belah (disintegratif). Fenomena ini banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh :

a. Teologia Agama dan Doktrin ajarannya

b. Sikap dan perilaku pemeluknya dalam memahami dan menghayati agama tersebut dalam perilaku sehari-hari

c. Lingkunagn sosiokultur yang mengelilinginya

d. Peranana dan pengaruh pemuka agama dalam mengarahkan pengikutnya

Islam sebagai agama Samawi, telah meletakkan dasar-dasar teologia dan ajaran-ajaran yang telah diuji-cobakan oleh sang pembawanya sendiri (Nabi Muhammad SAW) dan berhasil meletakkan pengalaman sosialyang menjunjung tinggi prinsip kemanusiaan dan Hak-hak asasi manusia di tengah-tengah kehidupan masyarakat dengan berbagai tradisi,berbagai agama dan kemajemukkannya. Suri tauladan tersebut juga diteruskan oleh penerus selanjutnya. presatsi yang seharusnya dipertahankan ini juga mengalami pasang surut, Bukan karena kelemahan dan kesalahan Teologia atau ajaran Islam yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhhammad SAW akan tetapi karena faktor-faktor seperti disebutkan di atas!

Untuk masalah yang menyangkut penerapan HAM dalam Plurarisme agama. Alquran dan sunnah nabi Muhammad memberikan bimbingan dan teladan implementasinya kepada para pengikutnya, mulai dari kehidupan berkeluarga hingga kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan pemerintahan atau negara yang pertama kali didirikjan oleh Nabi Muhammad dan pengikutnya di madinah adalah sebuah negara dengan keragaman Agama dan suku ada beberapa contoh  yang perlu dikemukakan dalam tulisan ini :

1. Bahwa perbedaan agama dalam suatu keluarga, tidak selayaknya merusak hubungan baik diantara mereka dalam kehidupan sehari-hari, apalagi bila itu terjadi antara anak dan orang tua

dalam penafsiran ayat yang berkaitan dengan hal ini (Lukman:14-15) beberapa musafir terkenal seperti Ibnu Katsir, Mustafa Almaraqi dan lainnya mengatakan, Bahwa anak harus bersikap hormat dan santun terhadap kedua orang tuannya, meskipun ada perbedaan agama antara anak dan orang tuannya, asal didalamnay tidak ada pemaksaan agama atau keyakinan kepada anak. kalau itu terjadi maka si anak harus menolak tanpa melepas sikap hormat dan santunnya kepada kedua orang tua. pengertian menghormati dan santun ini mencakup antara lain : bersikap sopan, menjaga, memberikan pangan dan sandang, mengunjungi apabila sedang sakit,, menghantarkan jenazah ketempat pemakaman dan sebagainya. khusus perbedaan agama dalam keluarga ini pernah dialami oleh Sa’ad Bin Abi Waqqash salah satu sahabat senior Nabi Muhammad dan karena konon kasus inilah yang menyebabkan turunnya ayat tersebut.

2. Nabi Muhammad memberi contoh dalam hubungan baik dan saling menghormati dengan tetangganya yang beragama lain,baik pada saat di Mekah maupun di Madinah dan setelah menguasai jazirah Arap. Nabi Muhammad kerap melakukan  Utang piutang dengan tetangganya yang Yahudi di Madinah, sebgaimana juga dilakukan denga tetangganya yang Musrik di Mekah. Nabi juga pernah menyuruh para sahabatnya berdiri karena ada jenazah orang Yahudi yang diusung kepemakaman lewat depan mereka. seperti juga yang dilakukan oleh sahabat Nabi bernama Ibnu Umar R.a. yang selalu mengingatkan keluarganya apabial memberikan hadiah makanan atau hadiah lainnya kepada jangan lupa memberikan hadiah kepada tetangga terdekat yang beda agama dalam Hukum islam terdapat aturan bertentangga yang baik yang harus dipatuhi (Huquq al Jiwar)

3. Pada saat awal di Madinah langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad adalah menyatukan masyarakat dimadinah yang terdiri dari berbagai agama dan berbagai suku. Langkah strategis inilah yang melahirkan Piagam Madinah yang meletakkan kehidupan berbangsa dan bernegara bagi masyarakat yang majemuk. Dalam piagam tersebut diatur hubungan antara sesama komunitas muslim dan antara komuitas Muslim dan komunitas lain selain muslim., antara lain:

a. Saling membantu dalampengamanan wilayah madinah]

b. Membela warga yang teraniaya (berlaku untuk semua warga madinah yang beragama Islam dan beragama lain dan berbagai suku)

c. Memnghormati kebebasan beragama dan beribadah

d. Menjaga hubungan bertetangga dengan baik

e. mengadakan Musyawarah apabila terjadi sesuatu diantara mereka.

4. Khalifah Umar Bin Khatab r.a waktu mendengar Islam telah menguasai AL Quds (Yarusalem) segera mengirim perintah kepada komandan pasukkannya isi perintah tersebut yang penting :

a. Berikan jaminan kepada penduduk baik  Jiwa, Harta, maupun rumah-rumah ibadah

b. Jangan merusak Gereja-gereja,salib-salibnya dan simbol-simbol agamanya

c. Jangan mengganggu dan mengambil barang-barang fasilitas agama,peribadatan milik mereka

d. jangan memaksakan mereka untuk memeluk agama Islam

Rambu-rambu kerukunan dalam hidup beragama dalam masyarakat majemuk, antara lain dikemukakan dalam Al-Quran (surat Al-Hujurat ayat 11-12) untuk kerukunan antara sesama umat se-iman yang intinya:

1. Jangan sampai suatu kelompok menghina kelompok yang lain.

2. Jangan saling mencela.

3. Jangan menyebut kelompok tertentu dengan kesan melecehkan.

4. Jangan suka berprasangka buruk dengan fihak yang lain

5. Jangan suka mencari-cari kesalahan fihak lain

6. jangan menyebarkan isu yang merugikan orang lain.

dalam hubungan dengan kelompok yang lain, baik suku dan agama yang berbeda ayat 13 dari surat tersebut menyebutkan:

” Manusia itu semuannya adalah ciptaan Allah, sehingga mereka itu prinsipnya memiliki kesamaan derajad. Plurarisme yang terdapat diantara mereka dapat dapat diintegrasikan dalam semangat ta’aruf (saling mengenal, saling menghormati,dan saling tanggung jawab)

Menyadari bahwa penilaian keunggulan akhirnya ditetapkan oleh Allah, atas dasar kualitas keimanan dan prestasi ketaqwaan”

Ajakan untuk mengembangkan kesadaran dan semangat Ukhuwah baik dalam kapasitas ukhuwah islamiah maupun Ukhuah whatoniah antara sesama umat manusia perlu direfleksiakan dan ditindaki secara dinamis dan terus menerus dalam rangka mewujudkan kebijakan yang ditetapkan bersama dalam membangun kehidupan bergama yang saling membantu, menghormati dan saling menghargai dalam masyarakat.

Sumber:HAM dan Plularisme Agama, Pusat Kajian Strategi dan Kebijaksanaan (PKSK) 1997

 

2 thoughts on “HAM dan Plurarisme Beragama dalam Teologi Islam”

  1. FEBY PERMATASARI

    Tq, artikelnya sangat membantu dalam pencarian jawaban atas tugas mapel sy.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *