Rekayasa dan Kejanggalan Pada Kasus Antasari Ashar

Kasus Pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen,Oleh  Antasari Azhar, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Mulai ditinjau Ulang. Tim penasihat hukummenilai ada 10 kejanggalan pada penanganan kasus kliennya terkait pembunuhan dan kejanggalan tersebut semua mengarah Pada antasari azhar sebagai terdakwa (sang pelaku pembunuhan).


Maqdir Ismail, penasihat hukum Antasari, mengatakan kejanggalan itu ditemukan selama proses persidangan di tingkat pertama,, baik di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan maupun PN Tanggerang. Berikut 10 kejanggalan tersebut:

1. Terkait penyitaan celana jins

Terkait barang bukti berupa celana jins milik Nasrudin dan anak peluru, penyidik tak menyita baju korban. Pemeriksaan forensik dilakukan hanya terhadap anak peluru, tetapi tidak terhadap mobil Nasrudin.

2.Terkait barang bukti senjata api.

Berdasarkan keterangan Dr Abdul Mun’im Idries, peluru di kepala korban berdiameter 9 mm dan berasal dari senjata yang baik.

Namun, keterangan ahli senjata Roy Harianto, bukti yang ditunjukkan adalah jenis Revolver 038 spesial dan kondisi senjata rusak lantaran salah satu silindernya macet.

Keterangan penjual senjata, Teguh Minarto, senjata ditemukan terapung dekat asrama Polri di Aceh sesudah tsunami.

“Menurut ahli senjata, menembak dengan satu tangan dari kendaraan dan sasaran bergerak terlalu sulit untuk amatir. Penembakan seperti itu bisa dilakukan setelah latihan dengan 3000-4000 peluru,” lanjut dia.

3. Pertimbangan majelis hakim

Ada pertimbangan majelis hakim dalam putusan Antasari yang tak jelas asalnya. Dalam berkas putusan halaman 175 , hakim menyatakan; “Menimbang bahwa Hendrikus mengikuti korban dalam waktu cukup lama, sampai akhirnya, sebagaimana keterangan saksi Parmin dipersidangan….”.
Maqdir menduga, pernyataan itu dikutip dari pertimbangan perkara lain.

4. Terkait luka tembak

Berdasarkan hasil visum, peluru pertama masuk dari arah belakang sisi kepala sebelah kiri, sementara peluru kedua masuk dari arah depan sisi kepala sebelah kiri. Diameter kedua anak peluru tersebut sembilan milimeter dengan ulir ke kanan.

“Hal ini menjadi ganjil kalau dihubungkan dengan fakta, bahwa bekas peluru pada kaca mobil almarhum yang hampir sejajar dan tidak ada bekas peluru dari belakang. Dalam kesaksian Suparmin, almarhum roboh ke kanan,” kata Maqdir melalui email kepada Kompas.com, Selasa ( 25/4/2011 )

5.Terkait Jeffrey Lumampouw dan Etza Imelda Fitri

Ada ketidakjelasan kepentingan dan hubungan Jeffrey Lumampouw dan Etza Imelda Fitri saat bersaksi mengenai pesan singkat atau SMS bernada ancaman kepada Nasrudin. Keduanya menyebut dalam SMS tertulis nama Antasari.

Menurut Maqdir, keterangan kedua saksi itu rekaan dan hasil pemikiran. Selain itu, tambah Maqdir, ada 2005 SMS ke nomor ponsel milik Nasrudin yang tidak jelas pengirimnya. Kemudian ada 35 SMS ke nomor ponsel milik Antasari yang juga tidak jelas sumbernya.

“Ada satu SMS yang dikirim dan diterima oleh HP Antasari dan lima SMS yang diterima dan dikirim ke HP Sigid Haryo Wibisono. Ahli IT Dr Agung Harsoyo menduga, pengiriman SMS ini dilakukan melalui web server.

Dia juga menyatakan, tidak ada SMS dari HP Antasari kepada Nasrudin. Ia memaparkan, chip telepon genggam Nasrudin yang berisi SMS ancaman rusak itu ternyata tidak bisa dibuka.

6. Perbedaan kualifikasi eksekutor

Ada perbedaan kualifikasi dua eksekutor, yakni antara Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo dan Hendrikus dalam keputusan di PN Tangerang dan di PN Jaksel. Dalam pertimbangan di PN Tangerang, keduanya hanya sebagai penganjur.

Adapun dalam pertimbangan keputusan terdakwa Antasari Azhar, Sigid dan Wiliardi Wizar di PN Jaksel, kata Maqdir, mereka sebagai pelaku dan penganjur.

7. Penjagaan berlebihan

Penjagaan yang berlebihan oleh polisi terhadap Rani Juliani sejak diperiksa sebagai saksi dalam penyidikan hingga bersaksi di persidangan. Menurut dia, hakim dalam mempertimbangkan keterangan Rani telah mengabaikan Pasal 185 Ayat 6 huruf d KUHP, yaitu cara hidup dan kesusilaan saksi.

8. Ruang kerja Antasari

Ada penyitaan barang bukti dari ruang kerja Antasari di KPK yang tidak berkaitan dengan perkara dan tidak dilakukan konfirmasi kepada Antasari. Bukti yang disita itu dikembalikan kepada Chesna F Anwar.

9. Pemeriksaan penyidik

Hakim mengizinkan pemeriksaan penyidik di persidangan setelah Wiliardi mencabut pengakuan adanya keterlibatan Antasari dalam pembunuhan Nasrudin.

“Cara paling mudah untuk membuka adanya ‘rekayasa’ terhadap perkara Antasari ini adalah dengan menguak pengirim SMS ancaman terhadap Nasrudin dan mencari pengirim SMS, serta penelpon ancaman dan cerita tidak benar terhadap keluarga Antasari,

10. Pengakuan Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo

Pengakuan Eduardus Noe Ndopo Mbete alias Edo diperiksa dengan cara dianiaya di luar lingkungan Polda Metro Jaya. Sementara itu, Rani mengaku diperiksa di hotel, restoran, dan apartemen.
11. Pernyataan Rani sebagai Saksi di Persidangan
Kesaksian Rani Yuliani sebagai saksi di prsidangan tampak sangat jelas kalau beberapa part atau bagian dari ketrangannya adalah sebuah rekayasa dan sudah ada yang mengatur membentuk suatu sandiwara yang sebenarnya sama sekali tidak terjadi, Suara, tingkah laku dan bahasa tubuhnya gelisah mencerminkan ada beberapa perkataannya yang bukan merupakan peristiwa yang sebenarnya! (Ini opini dari sya sendiri/Penulis)

Sementara itu adik kandung Nasrudin sulkarnaen pun mengakui bahwa menurut pendapatnya kasus antasari adalah rekayasa, Dugaan rekayasa persidangan kasus Antasari Azhar yang dituduh mendalangi pembunuhan berencana terhadap Direktur Putra Rajawali Banjaran Alm Nasruddin Zulkarnaen juga diakui oleh pihak keluarga korban. Andi Syamsuddin, adik kandung Nasruddin mengatakan, ada rekayasa besar yang melibatkan orang-orang penting di Republik ini.
Namun, dia tidak merinci orang-orang atau dari institusi mana yang dia maksud.
Oleh karena itu, Syamsuddin mewakili keluarga meminta dukungan masyarakat Indonesia agar mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi itu dibebaskan dari segala tuduhan. Dia meminta publik menekan lembaga hukum untuk membebaskan Antasari dari penjara.
“Saya menyerukan kepada publik untuk memberikan dukungan moral dalam hal bagaimana bisa membebaskan Pak Antasari Azhar. Karena diduga kuat kasus ini memang ada rekayasa besar sehingga saya dari saudara kandung almarhum Nasruddin Zulkarnaen meminta publik memberikan dukungan moral untuk kebebasan Pak Antasari dan kiranya publik bisa memberikan pressure kepada lembaga hukum untuk membebaskan Pak Antasari,” katanya kepada okezone, Sabtu (16/4/2011).
Syamsuddin menambahkan, kalau dia membuka dugaan rekayasa itu, tentunya akan banyak pihak yang merasa terusik. Bahkan, bisa menimbulkan instabilitas di Indonesia karena yang terlibat bukan orang-orang sembarangan.
“Saya harapkan dalam pengajuan Peninjauan Kembali Pak Antasari dibebaskan. Dan saya harap saudara Antasari bisa mencari dan menjadi kewajibannya untuk mengungkap siapa dalang pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen, saudara saya,” katanya.

Kebenaran melawan Kelicikan dan kejahatan Kita lihat perkembangan kasus Antasari Azhar kalau memang kebenaran tetap sebagai yang terkalahkan ini bisa kita jadikan sebagai barometer betapa bejat dan Hinanya Hukum di Negeri kita.

Sumber Kompas.com

3 thoughts on “Rekayasa dan Kejanggalan Pada Kasus Antasari Ashar”

  1. inilah negri bedebah orang2 yang banyak memfitnah.banyak sumpah serapah dan sampah diantara negri2 yang Indah.Suatu saat pasti terkuak semua……kebenaran sejati hanya Sang Waktu saja yang belum bicara.Tapi aku juga percaya Waktullah yang mengubah Gelap jadi Terang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *