Syeh Puji Lagi……Syeh Puji lagi!

20090317_125354_syekhpuji16-mi-haryantoSyeh puji, pimpinan pondok pesantren yang acapkali berpenampilan nyleneh dan terkesan memamerkan harta kekayaannya beberapa tahun belakangan ini menghebohkan indonesia dengan pernikahannya dengan gadis di bawah umur tanggal 14/07 kemarin kembali di gelandang polisi menuju pesakitan

Penangkapan Pujiono Cahyo Widianto alias Syeh Puji dianggap sudah sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Penangkapan Pujiono oleh petugas Satreskrim Polwiltabes Semarang Selasa (14/7) malam lalu, tidak menyalahi aturan hukum.


Kapolda Jateng Irjen Alex Bambang Riatmodjo menegaskan, anggotanya melakukan hal itu karena Pujiono yang dijadikan tersangka kasus pernikahan di bawah umur dan eksploitasi anak, menghalang-halangi pemeriksaan dan tidak kooperatif.

“Sepanjang evaluasi yang kami lakukan, itu (penangkapan) sudah sesuai prosedur. Saya selalu perintahkan kepada anak buah saya, di dalam menghadapi pelaku tindak pidana harus selalu waspada. Jangan sampai anak buah saya tumbang karena perlawanan dari pelaku tindak pidana,” ujar Kapolda didampingi Kabid Propam Polda Jateng Kombes Budi Waseso, Kamis (16/7).

Pernyataan Kapolda tersebut menanggapi kuasa hukum Pujiono yang mengatakan, penangkapan tersebut dipandang berlebihan. Jika kejadian penangkapannya berlangsung kisruh, polisi menganggap itu karena perlawanan dari Pujiono dan ratusan karyawannya. Mereka dianggap melakukan perlawanan. “Sebagaimana yang saya evaluasi dan sebagaimana wartawan tahu, ada kendaraan yang dipakai polisi dirusak.

Itu sebagai wujud perlawanan pada saat pelaksanaan penangkapan atau pembawaan. Dengan demikian, cara pembawaannya (penangkapan) tentu berbeda dengan yang nurut-nurut saja (tidak melakukan perlawanan),” ungkap Kapolda.

Selain itu, kata Alex Bambang, penahanan kembali Pujiono karena dia berulang-ulang (lebih dari dua kali) tidak datang wajib lapor dan tidak kooperatif selama masa penangguhan tahanan.

“Dengan tidak melaksanakan wajib lapor itu sebagai bentuk tidak kooperatif. Padahal wajib lapor itu sebagai konsekuensi penangguhan penahanannya dikabulkan oleh penyidik. Tidak hadir dua kali wajib lapor itu sama dengan dipanggil dua kali tidak hadir maka yang bersangkutan bisa dibawa (ditangkap),” tandas Kapolda.

Untuk itu, jajarannya tak masalah dan siap diperiksa jika nanti akan ada pemeriksaan dari Mabes Polri. Kapolda justru mempersilakan Mabes Polri melakukan pemeriksaan agar mengetahui persis kejadiannya. “Silakan saja. Kalau ada pemeriksaan itu kan untuk memastikan dan meyakinkan saja bahwa semuanya telah dilakukan sudah sesuai dengan aturan. Jadi tidak masalah.”

Mengenai isu SARA, Kapolda mengatakan bahwa hal itu terlalu berlebihan. “Jangan membelok-belokan masalah. Saya kira masyarakat dan wartawan Jawa Tengah tahu siapa itu Pujiono. Wartawan juga jangan sampai terbawa-bawa,” katanya.

Sementara itu, tuduhan Pujiono dilarang shalat saat akan ditangkap, sejumlah petugas yang membawa Pujiono mengatakan, tuduhan itu sama sekali tidak benar. Sebab, dalam perjalanan ke Semarang, rombongan mampir ke Polsek Ambarawa untuk menunaikan shalat Maghrib sebelum menuju Polwiltabes Semarang.

Bahkan, Pujiono dan beberapa anggota polisi shalat di tempat yang sama walaupun bukan berjamaah. Menurut polisi, shalat maghrib tidak mungkin dilakukan di kediaman Pujiono karena ratusan karyawan sudah terlihat emosi dan melakukan pengepungan. Untuk menghindarkan hal-hal yang tidak diinginkan, polisi langsung membawa Pujiono meninggalkan lokasi. Agar waktu shalat maghrib tidak terlambat maka dilakukan di Polsek Ambarawa yang dianggap lebih aman.

Adapun mengenai kasus perusakan mobil anggota Polri yang dilakukan karyawan Pujiono, Kapolda menegaskan bahwa itu merupakan tindak pidana yang lain. Slamet dan Dwi, karyawan Pujiono, sudah ditetapkan sebagai tersangka karena mereka diduga melakukan pengrusakan secara bersama-sama. Keduanya melanggar Pasal 170 KUHP tentang kekerasan bersama-sama terhadap suatu barang.

Sumber : Suara Merdeka 17/07/09

2 thoughts on “Syeh Puji Lagi……Syeh Puji lagi!”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *