Pengembangan dan penemuan obat baru

Pengembangan dan penemuan obat baru diperlukan untuk menjawab tantangan pelayanan kesehatan, baik untuk tujuan promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Obat modern dikembangkan melalui proses yang panjang serta memakan biaya yang tinggi, dan setiap tahun puluhan bahkan ratusan obat baru masuk ke pasar obat dunia. Dan ini akan terus berlanjut.Secara umum, efikasi atau kemanjuran dan keamanan (safety ) adalah 2 parameter utama untuk penilaian obat. Ketika metode penelitian dan bioetika belum terlalu berkembang, penelitian penemuan dan pengembangan obat dilakukan secara trial and error. Saat ini uji klinik menjadi conditio sine qua non bagi pengembangan obat, meskipun ada juga perkecualian yang terpaksa dilaksanakan.

Ada berbagai macam metode uji klinik yang dikenal, namun yang dikenal sebagai gold standard adalah uji klinik teracak (rand mised clinical trial/RCT). Namun, seringkali penilaian hasil uji klinik terutama untuk membandingkan apakah penambahan suatu jenis obat (add-n) bermanfaat dengan risiko yang kecil dibandingkan pengobatan yang ada terlalu sulit untuk diterapkan pada situasi klinis tertentu. Apalagi bila penilaian atau evaluasi dilakukan oleh orang yang bukan memiliki spesialisasi evaluasi efisiesi dan efikasi obat.

Metode baru penilaian uji klinik suatu obat telah dikembangkan di Jerman dengan nama Evaluation of pharmaceutical Innovations with regard to Therapeutic Advantage (EVITA).1 Melalui EVITA uji klinik yang secara desain memiliki kelemahan dalam pembuktian efikasi dan keunggulan klinis suatu obat, misal yang penggunaan kelompok kontrol yang tidak cukup, atau “keterpaksaan” penggunaan keluaran antara (surrogate utcomes) akan dapat dinilai secara lebih mudah.

Penggunaan surrogate markers daripada efek klinik (clinical utcomes ) 2 untuk menilai efek terapi obat kadang-kadang terpaksa dilakukan, misalnya pada terapi kanker prostat dengan menggunakan prostate specific antigen (PSA)sebagai biomarker kanker prostat.

Seminar ini akan disampaikan oleh Pembicara : dr. Abraham Simatupang (Bagian Farmakologi FK UKI,Jakarta). Universitas Kristen Indonesia. Acara ini bisa saksikan memalui teleconference tanggal 4 Nopember 2011 melalui Jaringan Inherent.  Info via Milis Inherent.

Tags:

metode penemuan obat,  pengembangan obat baru,  artikel pengembangan obat baru,  penemuan obat terbaru,  

2 thoughts on “Pengembangan dan penemuan obat baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *