Perang Meriam Karbit,Tradisi Unik Masyarakat Kapuas Menyambut Idul Fitri

Pada Hari Jum’at kemarin 27 Agustus 2010 aku pergi ke batulayang, salah satu daerah di pontianak yang melalui sungai kapuas, Pemandangan disungai ini membuat aku tertegun dan bertanya-tanya apa manfaat dari sejumlah selongsong meriam berukuran batang kelapa besar di jejer-jejer sepanjang sungai, ternyata setelah kuselidiki ini merupakan cara tradisi unik sungai kapuas menyambut Idul fitri.

Dan dibalik tradisi tersebut terselubung sebuah cerita sejarah asal mula tradisi ini dan ceritanya sangat menarik,karena tradisi ini juga berkaitan dengan nama Pontianak yang dalam bahasa melayu berarti Kuntil anak…..hihiih ngeri,tapi simak cerita di bawah ini

Pontianak adalah kesultanan terakhir yang berdiri di Kalimantan Barat pada abad ke-17. Didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang sekaligus merupakan Sultan pertama di Kesultanan Pontianak ketika itu. Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadri adalah putera seorang ulama terkenal di Kalimantan Barat yang bernama Habib Husain. Habib Husain ini berasal dari Negeri Hadhralmaut-Yaman Selatan.

Berdasarkan silsilahnya, Habib Husain ini merupakan keturunan Nabi Muhammad. Ketika di Kalimantan Barat, Habib Husain sempat menjadi ulama yang menyebarkan ilmu keislamannya di Kesultanan Matan dan Kesultanan Mempawah. Syarif Abdurrahman sendiri adalah putera dari perkawinannya dengan perempuan di Kesultanan Matan.

Dalam Bahasa Melayu, Pontianak artinya hantu kuntilanak. Penamaan ini sesuai dengan sejarah ketika berdirinya kota pesisir sungai ini dua abad yang silam. Konon ketika itu, pendiri kota ini yaitu Syarif Abdurrahman Al-Qadri, bersama-sama dengan rombongannya kemudian sampailah di kawasan Batulayang yang berada di wilayah utara Pontianak setelah melakukan perjalanan dari Mempawah untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan kesultanan.

Ketika sampai di Batulayang inilah, rombongan Syarif Abdurrahman Al-Qadri yang melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal tiba-tiba mendapat gangguan dari makhluk halus sejenis hantu kuntilanak. Berdasarkan petunjuk yang didapat, Syarif Abdurrahman Al-Qadri kemudian memerintahkan kepada rombongannya untuk bermalam di Batulayang, karena daerah yang akan dituju sudah semakin dekat. Berdasarkan petunjuk yang didapat juga, Syarif Abdurrahman memerintahkan kepada rombongannya untuk menembakkan meriam, yang selain untuk mengusir gangguan hantu kuntilanak, juga sebagai penanda, bahwa di mana peluru meriam itu jatuh, maka di tempat itulah nantinya akan dibangun kesultanan.

Simpang tiga pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak adalah tempat jatuhnya peluru meriam yang ditembakkan tersebut. Kawasan tersebut kemudian dikenal dengan nama Kampung Beting yang termasuk di dalam wilayah Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Di kawasan inilah untuk pertama kalinya didirikan bangunan berupa masjid di Kota Pontianak yang ketika itu masih hutan belantara.

Masjid yang merupakan bangunan pertama di kota ini kemudian dikenal dengan sebutan Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Tak jauh dari Masjid Jami’ Kesultanan Pontianak tersebut kemudian didirikan Istana Qadriah sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Pontianak ketika itu. Hingga kini, kedua bangunan bersejarah di Kota Pontianak tersebut masih tetap kokoh berdiri.

Berkaitan dengan sejarah masa lalunya, menembakkan meriam menjadi tradisi tersendiri di Kota Pontianak ketika akan menyambut Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta ketika memperingati Hari Jadi Kota Pontianak. Tak jarang pula meriam dibunyikan ketika event-event budaya seperti Festival Budaya Bumi Khatulistiwa (FBBK) yang setiap tahun rutin dilaksanakan oleh pemerintahan daerah setempat.

Bedanya, meriam yang menjadi tradisi masyarakat Kota Pontianak ini bukanlah terbuat dari besi dan berisikan mesiu, melainkan hanya meriam yang terbuat dari kayu log yang cukup panjang dan berdiameter agak besar (panjangnya 5 – 8 meter, dengan diameter 30 – 100 centimeter) dan berisikan karbit 3 – 5 ons sebagai pengganti mesiu yang kemudian disulut dengan api. Suara meriam karbit ini bisa menggelegar hingga mencapai radius 10 kilometer.

Meriam karbit, begitulah masyarakat Pontianak biasa menyebutnya. Merupakan tradisi unik yang ada Pontianak yang mungkin satu-satunya di Indonesia dan di dunia. Mengapa dikatakan unik? Di beberapa daerah mungkin saja terdapat tradisi serupa.

Tapi sangat berbeda dengan tradisi meriam karbit yang ada di Kota Pontianak. Selain meriamnya berukuran besar, juga dibunyikan secara bergantian dan berhadap-hadapan antara kelompok yang ada di sisi sungai yang satu dengan kelompok yang ada di sisi sungai yang berseberangan. Dan ini bukan hanya satu dua kelompok, namun bisa mencapai puluhan kelompok yang berada di sepanjang pesisir Sungai Kapuas Kecil secara berhadap-hadapan seperti layaknya peperangan.

Satu kelompok bisa memiliki 3 hingga 8 meriam karbit. Sehingga dapat dibayangkan keadaan Kota Pontianak ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri, gegap-gempita dengan suara meriam yang menggelegar bersahut-sahutan bagaikan berada di dalam sebuah kota yang sedang dilanda peperangan. Bagi sebagian orang yang tak terbiasa, suara bising tersebut mungkin akan sangat mengganggu. Tapi lain lagi bagi kebanyakan masyarakat Kota Pontianak. Meriam karbit merupakan tradisi yang sudah mendarah daging bagi mereka, yang tak setiap hari dapat ditemui. Dulu tradisi ini pernah dilarang oleh polisi dan pemerintahan setempat.

Bahkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan tradisi ini akan ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Baru dalam sekitar 13 tahun terakhir ini masyarakat Pontianak bisa melakukan tradisi mereka yang unik ini dengan leluasa tanpa adanya larangan dari polisi dan pemerintahan setempat.Dan hal ini juga merupakan salah satu andalan untuk menarik turis manca negara maupun turis lokal. Para turis/pendatang juga diberikan kesempatan untuk menembakkan meriam karbit dengan membayar sejumlah uang sebesar 15 ribu rupiah.

Selain tradisi meriam karbit, di Kota Pontianak hingga kini juga terus hidup tradisi-tradisi lainnya berupa kesenian daerah dengan corak budaya Melayunya yang begitu kental, seperti Zikir Hadrah, Tari Zapin, Pantun, Syair, dan Tanjidor, serta tradisi Melayu pada upacara kelahiran, khitanan, khataman Al-Qur’an, pertunangan, pernikahan, dan kematian. Selain budaya dan tradisi Melayu, di Pontianak juga hidup dan berkembang budaya dan tradisi Tionghoa, seperti Barongsai, Cap Go Meh, dan Atraksi Naga. Selain itu, Kota Pontianak hingga kini juga masih memiliki tempat-tempat bersejarah, seperti Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrarahman, Istana Qadriah, dan Makam Keluarga Kesultanan Pontianak (dikenal dengan sebutan Makam Batulayang). Selain itu juga terdapat Taman Alun-alun Kapuas, Kawasan Kampung Beting, Museum Negeri, Duplikat Rumah Adat, Taman Agrowisata, Jembatan Kapuas, dan Jembatan Landak, serta Tugu Khatulistiwa yang merupakan ikon Kota Pontianak yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Tags:

asal mula alun alun kapuas,  

2 thoughts on “Perang Meriam Karbit,Tradisi Unik Masyarakat Kapuas Menyambut Idul Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *